Wednesday, November 2, 2011

Bagaimana Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?


Mei 5, 2007
oleh Abu Azam Mulyanto
Oleh : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Setelah wahyu yang turun sempat berhenti, maka ayat pertama yang turun setelah itu adalah Surat Al-Muddatstsir: 1-7, sebagaimana tercantum dalam shahih Bukhari dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan (yang artinya):
“Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit, maka aku mengangkat pandanganku. Kulihat malaikat yang datang kepadaku di gua Hira dalam keadaan duduk di atas kursi, di antara langit dan bumi. Sehingga aku jadi takut daripadanya dan bergegas pulang. Lalu aku berkata: selimuti aku, selimuti aku.
Maka Allah berfirman yang bermaksud:
“Wahai orang-orang yang berselimut. Bangunlah dan berilah peringatan. Dan Rabb-mu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan kejelekan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-mu, bersabarlah.” (Al-Muddatstsir: 1-7).
Maka setelah itu, wahyu banyak yang datang secara berturut-turut.”
Syaikh Al-Mubarakfuri dalam kitab Rahiqul Makhtum mengatakan bahwa:
1) Tujuan diperintahkannya beliau untuk memberi peringatan adalah agar tidak tersisa seorang pun yang menyelisihi Allah di alam ini, kecuali sudah mendapatkan peringatan tentang akibatnya yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (adzab).
2) Tujuan dibesarkannya Allah adalah agar tidak tersisa pada seorang pun kesombongan di muka bumi ini kecuali akan hancur kekuatannya.
3) Tujuan disucikannya pakaian dan dijauhinya kejelekan adalah agar mencapai kesucian (tazkiyyah) lahir dan batin hingga menjadi teladan tinggi bagi manusia.
4) Tujuan dilarangnya memberi dengan harapan akan mendapatkan imbalan yang lebih banyak (dari manusia) adalah agar tidak menganggap perbuatan-perbuatannya sebagai sesuatu yang besar, dan akan terus berusaha menambah amalan dengan amalan berikutnya. Juga terus banyak berusaha dan berkorban kemudian lupa pada semua amalan tersebut. Dan harapannya hanya pada Allah (yakni merasa belum seberapa apa yang dia korbankan).
5) Ayat terakhir (yakni perintah untuk sabar) merupakan isyarat kepada kalian tentang apa yang akan dialaminya (dalam menjalankan tugasnya berdakwah) yaitu pertentangan, celaan, cemoohan, dll.” (Dinukil secara ringkas dari kitab beliau).
Dengan demikian, turunnya Surat Al-Muddatsir ini merupakan pengangkatan beliau sebagai Rasul (utusan) Allah yang membawa tugas dakwah dan memberi peringatan. Ini senada dengan ucapan Ibnul Qayyim yang telah dinukil pada edisi yang lalu bahwa beliau diangkat sebagai Nabi dengan “Iqra” dan diangkat sebagai Rasul dengan “Al-Muddatsir”.
Dengan turunnya surat ini, maka mulailah beliau berdakwah dengan dakwah seperti apa yang dilakukan oleh para Nabi sebelumnya, yaitu mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah (tauhid) dan dengan cara hanya mengikuti Rasul-Nya (ittiba’), sebagaimana Allah telah kisahkan dakwah pada Rasul, mulai rasul pertama Nuh 

“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul. Ketika berkata saudara mereka Nuh, “Tidakkah kalian mau bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah Rasul yang dapat dipercaya. Maka bertakwalah pada Allah dan taatlah kepadaku (108).” (Asy-Syu’ara`: 105-108)
Allah berfirman pula tentang Hud alaihis salam yang bermaksud: 
 “Kaum Ad telah mendustakan para Rasul. Ketika berkata saudara mereka Hud, “Tidakkah kalian mau bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah utusan yang terpercaya. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (Asy-Syu’ara`: 123-126)

Demikianlah selanjutnya Allah menceritakan tentang dakwah para Nabi tersebut dalam Surat Asy-Syu’ara dengan kalimat yang sama. Sebagaimana dakwah Nabi Shaleh alaihis salam di ayat 141, Nabi Luth alaihis salam di ayat 160, Nabi Syu’aib di ayat 176, dan Nabi Isa alaihis salam dalam surat Az-Zukhruf ayat 63. Mereka semua mengajak kaumnya untuk bertakwa kepada Allah dan taat mengikuti Rasul-rasul utusan-Nya (“Fattaqullah wa athii’un”).

Allah menganggap semua kaum yang mendustakan Nabi-Nya sebagai orang yang mendustakan seluruh para Rasul. Hal ini memang karena semua para Rasul itu misinya sama, yaitu meng-esakan Allah dalam ibadah dan memberantas kesyirikan-kesyirikan. Adapun cara beribadahnya kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasul-Nya masing-masing.

Demikian pula dengan Rasul yang terakhir, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Nabi yang penuh kasih sayang dan sangat perhatian kepada umatnya. Allah telah mengutus beliau dengan misi yang sama, yaitu mengajak kepada tauhid agar seluruh manusia, bangsa Arab khususnya, beribadah hanya kepada Allah. Dan meninggalkan peribadatan kepada kuburan orang-orang shalih seperti berhala Latta, tempat-tempat keramat seperti berhala ‘Uzza, dan patung-patung seperti Manat dan Hubal. Juga agar mereka meninggalkan kepercayaan kepada dukun-dukun semacam ‘Amr bin Luhai yang meminta bantuan kepada jin. Cobalah simak tentang dakwah Rasulullah ini dari hadits Bukhari tentang kisah pembicaraan Abu Sufyan (di kala dia belum masuk Islam) dengan pembesar Romawi (Heraklius) dalam suatu dialog yang panjang, di antaranya:
قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ؟ قُلْتُ: يَقُوْلُ اُعْبُدُوْا اللهَ وَحْدَهُ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوْا مَا يَقُوْلُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ… ﴿رواه البخاري﴾
(Heraklius) bertanya: Apa yang dia (Rasulullah) perintahkan kepada kalian? (Abu Sufyan) menjawab: “beliau menyerukan ‘beribadahlah kalian kepada Allah saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan tinggalkanlah apa-apa yang diucapkan oleh bapak-bapak kalian.’ Beliau memerintahkan kepada kami untuk shalat, kejujuran, menjaga diri, dan menghubungkan silaturahmi… [HR. Bukhari]
Demikian pula makna perintah Allah (yang artinya): “dan jauhilah rujz.” (Al-Muddatsir: 5). Dikatakan dalam tafsir Ibnu Katsir: “Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas: ar-rujz adalah berhala-berhala, maka jauhilah dia. Demikian pula Ikrimah, Qatadah dan Zuhri. Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: dia adalah patung-patung.” Dengan demikian, makna ayat tersebut di atas adalah perintah untuk menjauhi dan menjauhkan kesyirikan.
Beliau pun mengajak mereka untuk beriman bahwa beliau adalah seorang Rasul (utusan) Allah dan memerintahkan mereka untuk mengikutinya serta beribadah dengan caranya. Beliau bersabda dalam masalah shalat:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي ﴿رواه البخاري﴾
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” [HR. Bukhari]
Dan tentang haji, beliau bersabda:
خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ ﴿أخرجه مسلم (١٢٦٧)
“Ambillah dariku manasik haji kalian.” [HR. Muslim]
Demikian pula dengan berbagai ucapan beliau lainnya yang mengajak dan memerintahkan untuk mengikutinya, sehingga Allah berfirman yang bermaksud:  
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Akhir dan dia banyak mengingat (Allah).” (Al-Ahzab: 21)
Demikian dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dakwah para Nabi sebelumnya yaitu mengajak kepada “tauhidullah” dan “ittiba’ Rasul”.
Di samping memiliki persamaan misi dalam dakwah dengan para Nabi lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai kelebihan yang lain dari yang lain. Beliau bersabda:
أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحِلَّ ِلأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً ﴿رواه البخاري ومسلم﴾
“Aku diberi lima (keutamaan) yang tidak diberikan pada seorangpun (dari kalangan Nabi) sebelumku: (1) Aku dimenangkan dengan rasa takut (pada musuh) sejarak sebulan perjalanan. (2) Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan suci (dapat dipakai tayammum), siapa saja yang menemui waktu shalat maka hendaklah dia kerjakan shalat. (3) Dihalalkan bagiku ghanimah (rampasan perang) dan tidak dihalalkan bagi seorangpun sebelumku. (4) Aku diberi syafaat. (5) Dan dahulu, Nabi itu diutus kepada kaumnya (masing-masing) sedang aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Riwayat ini menunjukkan tentang kekuasaan yang Allah berikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak dimiliki Nabi-nabi sebelumnya, yaitu:
1. Dimenangkannya beliau dari rasa takut pada musuhnya, walaupun jaraknya masih satu bulan perjalanan.
2. Dijadikannya bumi sebagai masjid dan suci. Sehingga, seorang musafir dari umat beliau jika menemui waktu shalat, ia dapat shalat di manapun. Dan jika tidak ada air, debu di bumi manapun bisa dipakai sebagai tayammum.
3. Dihalalkannya harta rampasan perang.
4. Diberikannya syafaat bagi beliau.
5. Bahwa dakwahnya luas sifatnya dan umum (universal) untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk kaumnya saja (Bangsa Arab). Dengan demikian, perbedaan antara dakwah beliau dengan dakwah Nabi sebelumnya adalah dakwah beliau merupakan rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil alamin). Dengan kondisi yang demikianlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berdakwah.
Secara ringkas, perjalanan dakwah beliau adalah seperti apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim: “…beliau diangkat sebagai Rasul dengan “Al-Muddatsir”, kemudian Allah perintahkan dia untuk memperingatkan keluarganya yang terdekat. Setelah itu, memperingatkan kaumnya (Quraisy), kemudian memperingatkan orang-orang sekitarnya dari kalangan Arab, kemudian memperingatkan bangsa Arab secara keseluruhan. Barulah kemudian memperingatkan seluruh alam. Selama beberapa tahun beliau menjalankan dakwahnya tanpa melalui perang dan tanpa memungut jizyah (upeti). Allah perintahkan beliau agar “menahan” tangannya (dari mengangkat senjata) dan bersikap sabar. Setelah itu, beliau diizinkan Allah untuk berhijrah, diikuti pula dengan perintah untuk memerangi orang-orang yang memeranginya dan “menahan” tangannya (dari mengangkat senjata) dari orang-orang yang tidak memeranginya. Setelah ini berjalan, barulah datang perintah untuk menghajar kaum musyrikin seluruhnya. Hingga agama ini semua hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim. Maka dengan turunnya surat Al-Muddatsir, mulailah beliau berdakwah kepada orang yang paling dekat dengannya, yaitu istrinya (Khadijah bintu Khuwailid) dan keluarganya serta shahabat-shahabatnya yang terdekat. Beliau mengajak mereka secara perorangan (fardiyah) kepada Islam dan iman kepadanya. Maka istrinya pun beriman kepadanya, sebagai wanita pertama yang masuk Islam. Setelah itu, muncul Ali bin Abi Thalib, sebagai remaja pertama yang menyambut dakwah beliau. Di antara shahabat-shahabat beliau yang menyambut dakwahnya tanpa keraguan sedikitpun adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Memang demikianlah keadaan Abu Bakar sehingga ia dijuluki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Ash-Shiddiq”. Karena ketika dia mendengar ajakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan serta-merta dia menjawab: “ayah ibuku sebagai jaminan, sungguh engkau pemilik kejujuran, aku bersaksi tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan engkau adalah Rasulullah.” Sungguh ini suatu hal yang sangat menggembirakan karena beliau radhiallahu anhu adalah seorang bangsawan Quraisy yang kaya dan dermawan serta memiliki akhlak yang mulia, sehingga sangat dicintai orang-orang Quraisy. Maka, dengan perantaraan dakwahnya, beberapa shahabat masuk Islam seperti Utsman bin Affan, Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, dll. Demikianlah, dakwah Islam -saat itu- menjadi tersebar di kalangan mereka dari mulut ke mulut (sirriyah).
Setelah itu, turunlah perintah shalat walaupun shalat pada waktu itu hanya diperintahkan dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat lagi pada sore hari. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإِبْكَارِ ﴿غافر: ٥٥﴾
“Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu pada sore dan pagi hari.” (Ghafir: 55)
Demikianlah sebagaimana yang disebutkan oleh Muqatil bin Sulaiman yang dinukil dari Rahiqul Makhtum. Di samping itu, penulis kitab tersebut juga mengutip pula ucapan dari Ibnu Hajar bahwa dia berkata: “Rasulullah mengerjakan shalat sebelum (mengalami) isra’ secara qath’i (tegas), demikian pula shahabat-shahabatnya. Tetapi para ulama berselisih dalam hal apakah shalat yang diwajibkan itu shalat lima waktu ataukah tidak? Maka dikatakan bahwa kewajiban shalat pada waktu itu (hanya) sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya.”
Dalam kitab Rahiqul Makhtum itu pula telah ditulis suatu riwayat dari Harits bin Usamah dari jalan Ibnu Lahi’ah secara maushul (berantai) dari Zaid bin Haritsah radhiallahu anhu yang bunyinya: “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada awal-awal turunnya wahyu, didatangi oleh Jibril yang mengajari beliau cara berwudhu (dan shalat).” Ibnu Abbas mengatakan: “dan itu merupakan kewajiban pertama.” Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya jika masuk waktu shalat, mereka pergi ke Syi’b (lembah yang terlindung dengan bukit-bukit untuk shalat, agar tersembunyi dari kaumnya). Syaikh Al-Mubarakfuri setelah menukil ucapan Ibnu Hisyam di atas, mengatakan: “Tampaknya setelah meneliti dari segala sisinya dan dari kejadian-kejadiannya bahwa dakwah pada tahapan ini walaupun sirriyah dan fardiyyah, tetap sampai pula beritanya ke telinga orang-orang Quraisy. Walaupun demikian, mereka belum menanggapi dakwah tersebut.”
Pelajaran yang Bisa Diambil
1. Dari surat Iqra’ dan Al-Muddatsir dapat kita ambil pelajaran bahwa seorang juru dakwah harus memiliki persiapan-persiapan sebagai berikut:
a) Membekali diri dengan ilmu
b) Membersihkan diri secara lahir dan batin; membersihkan badan dan pakaian dari kotoran serta najis; membersihkan jiwanya dari kesyirikan dan maksiat.
c) Ikhlas dalam memberikan dan mengamalkan sesuatu.
d) Sabar.
Sedangkan tugasnya adalah:
a) memberi peringatan.
b) mengagungkan Allah.
c) menjauhi dan menjauhkan segala kesyirikan dan kejelekan.
2. Bahwa seluruh dakwah para Nabi adalah tauhidullah (mengesakan Allah dalam ibadah dan menjauhi kesyirikan) dan ittiba’ Rasul (beribadah dengan mengikuti sunnah Rasul).
3. Bahwa seluruh dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku umum untuk seluruh manusia, baik Arab maupun ‘Ajam (non Arab).
4. Bahwa akhlak yang baik sangat mempengaruhi berhasil tidaknya dakwah, khususnya masalah kejujuran.
5. Pentingnya shalat karena dia merupakan kewajiban yang pertama di awal-awal turunnya wahyu.
6. Bahwa dakwah bisa dilakukan secara fardiyyah dari mulut ke mulut (secara perorangan).
7. Dakwah sirriyyah dilakukan di kala ajaran Islam belum dikenal oleh seorang pun dan (dilakukan) terhadap orang-orang yang kafir. Demikian pula dilakukannya shalat secara sembunyi-sembunyi adalah terhadap orang-orang yang kafir.
8. Bahwa pada tahapan ini, orang-orang Quraisy pun sudah mengetahuinya, tetapi tidak menanggapinya sehingga ini membuktikan bahwa marhalah (tahapan) ini lebih dekat kalau dikatakan dakwah fardiyyah. Beliau menyampaikannya hanya kepada orang-orang yang dia percaya dan diduga akan menerima dakwahnya. Jadi dakwah tidak disyi’arkan secara umum.
9. Dengan demikian, jelaslah kesalahan kelompok-kelompok dakwah yang sampai menghalalkan dusta untuk merahasiakan dakwahnya, karena mayoritas manusia di sekitarnya adalah kaum muslimin. Mengapa mereka menyembunyikan ajarannya? Apakah ajarannya lain dengan kita? Atau menganggap kita semua adalah orang-orang kafir? Maka jawabnya: kalau mereka berbeda dengan ajaran Islam yang berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka mereka adalah ahli bid’ah. Wajib kaum muslimin untuk menghindari mereka. Kalau mereka menganggap kita dan (menganggap) mayoritas kaum muslimin adalah kafir, maka mereka adalah khawarij. Wajib bagi kita untuk berhati-hati terhadap mereka. Dan kalau ajarannya memang berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, mengapa harus disembunyikan dakwah terhadap sesama kaum muslimin? Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
1. Siroh Ibnu Hisyam
2. Mukhtashar Siroh Ibnu Hisyam oleh Abdus Salam Harun
3. Siroh Shahihah oleh Dr. Akram Dhiya’ul Umari
4. Rahiqul Makhtum oleh Syaikh Al-Mubarakfuri
5. Nurul Yaqin oleh Muhammad Hudhari Bik
Sumber: Majalah Salafy/Edisi III/Syawwal /1416/1996 rubrik Siroh
Url Sumber:
http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=40

No comments:

Post a Comment